Blusukan Puisi di Kebun Teh Medini

“Minggu Berpuisi di Medini” menjadi salah satu ikhtiar mendekatkan aktivitas sastra dengan alam. Sebab, alam adalah sumber intuisi. Selain itu juga napak tilas jejak penyair Iman Budhi Santosa, yang pernah tinggal di Kampung Babadan, Kebun Teh Medini.
Hasta Indriyana dan Koordinator Komunitas Sastra Lereng Medini (KLM) Heri CS (paling kiri) bersama peserta Residensi Akhir Pekan #5 “Minggu Berpuisi di Medini”. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

REPORTER/EDITOR: Dwi NR | KENDAL | obyektif.id

DI tengah hamparan tanaman teh, beberapa orang –laki-laki dan perempuan– duduk beralas rerumputan di sebuah areal bekas bangunan yang dipenuhi berbagai jenis tanaman. Satu per satu maju di depan “panggung” ala kadarnya. Membaca puisi karya Iman Budhi Santosa, penyair asal Yogyakarta kelahiran Magetan.

Salah satu puisi karya Iman Budhi Santosa yang dibaca itu, yakni “Sehabis Kututup Pintu”: Sehabis kututup pintu dan terdiam sesaat/ hanyalah diriku, segalanya terbenam dalam jiwaku begitu cepat, atas nama-Mu, atas nama Kesunyian// Seluruh kehidupan menyatu, kehidupan dengan bahasa satu/ ketiadaan yang kekal berbunyi: Mu//

Sarapan ala ndeso sebelum berangkat menuju Kebun Teh Medini. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Demikian kegiatan bertajuk “Minggu Berpuisi di Medini” yang digeber di Eks Kampung Babadan, Kebun Teh Medini, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Ahad (31/12/2023).

Acara dihelat Komunitas Sastra Lereng Medini (KLM) bekerja sama dengan Sangkar Arah Pustaka, Jarak Dekat Art Production, dan Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK).

Menumpang mobil pickup, peserta Residensi Akhir Pekan #5 “Minggu Berpuisi di Medini” sampai di area Kebun Teh Medini. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

“Minggu Berpuisi di Medini” merupakan rangkaian acara Residensi Akhir Pekan #5 yang digelar di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub, Jalan Franz Kafka, Dusun Krajan, Desa Bebengan, Kecamatan Boja, Kendal. Acara diikuti beberapa orang dari Kendal, Pekalongan, Kebumen, dan Semarang.

Yang istimewa, acara juga menghadirkan Hasta Indriyana, penyair kenamaan asal Yogyakarta yang kini mukim di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah. Sebelumnya, Hasta juga menjadi pemateri dalam acara Residensi Akhir Pekan #5 bersama belasan peserta.

Seorang peserta Residensi Akhir Pekan #5 “Minggu Berpuisi di Medini” membaca puisi disaksikan Hasta Indriyana. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Bukan tanpa alasan Hasta Indriyana diundang ke Medini. Oleh sebagian orang, Hasta disebut-sebut merupakan salah satu “anak emas” atau murid dari Iman Budhi Santosa.

Iman, semasa hidupnya, pada 1971-1975 pernah menjadi sinder di Afdeling Babadan —yang menjadi lokasi acara.

Duduk lesehan di rerumputan, peserta Residensi Akhir Pekan #5 bersama Hasta Indriyana melakoni “Minggu Berpuisi di Medini”. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Bagi Hasta Indriyana, blusukan puisi di areal Kebun Teh Medini ini merupakan napak tilas yang sekaligus bisa dimaknai sebagai tadabur alam atau “ziarah” rekam jejak masa lalu atas gagasan-gagasan sastrawan Iman Budhi Santosa.

“Istilahnya seperti ziarah. Kita di sini bisa mendoakan sekaligus menyerap pelajaran, ilmu, gagasan-gagasan dari Iman Budhi Santosa; mengenai alam, lingkungan, masyarakat, antropologi, sosial, kultural, dan lain sebagainya, yang bisa dibagikan kembali dalam bentuk ilmu pengetahuan,” ungkap Hasta.

Hasta Indriyana saat diwawancara obyektif.id di Kebun Teh Medini”. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Lebih jauh, Hasta yang menyebut dirinya “cantrik” Iman Budhi Santosa, memaknai “Minggu Berpuisi di Medini” menjadi ajang untuk berproses kreatif, untuk menimba banyak hal yang bisa ditulis dan berbagi tentang kemanusiaan, nilai-nilai sosial, dan sebagainya.

“Ini menarik, bagaimana Komunitas Sastra Lereng Medini tumbuh dan memerlukan lebih banyak waktu untuk membangun gairah berkomunitas sastra di Kabupaten Kendal, utamanya di Medini, yang mesti diakui masih kurang atau kalah dibanding Kota Semarang maupun Kabupaten Temanggung,” bebernya.

Hasta Indriyana dan peserta Residensi Akhir Pekan #5 makan siang ala ndeso di Warung Pak Pamin (tengah) selepas napak tilas “Minggu Berpuisi di Medini”. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Namun, Hasta cukup mengapresiasi dan memberi acungan jempol atas antusiasme dan krenteg atau semangat peserta Residensi Akhir Pekan #5.

“Harapan saya, mereka istikomah untuk terus belajar meningkatkan kualitas berliterasinya. Saya siap menjadi teman di sini, di ‘Kendal Lantai Dua’ ini,” tandas Hasta.

Hasta Indriyana menjadi pemateri di Residensi Akhir Pekan #5 di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub, Kecamatan Boja, Sabtu (30/12/2023) siang. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Kampung Babadan menjadi salah satu wilayah di Kebun Teh Medini. Berada di sisi barat Gunung Ungaran, Kebun Teh Medini sudah ada sejak zaman Belanda.

Kebun Teh Medini memunyai luas sekitar 386 hektare, dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suhu udara di tempat ini sangat dingin, bahkan kerap tertutup kabut hingga siang hari.

Hasta Indriyana menggeber tema “Mengapa (Kita) Perlu Berpuisi?” di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub, Kecamatan Boja, Sabtu (30/12/2023) malam. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Kebun Teh Medini menyajikan hamparan luas tanaman teh yang berbukit-bukit. Jika pengunjung datang pada pagi hingga siang, biasanya akan berpapasan dengan para perempuan pemetik teh yang membawa karung.

Salah satu peserta Residensi Akhir Pekan #5, Anis Hidayati (42), mengaku merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan ini. Sebelumnya, dia pernah ke Medini tapi hanya untuk berwisata menikmati kesejukan suasana kebun teh. Kali ini, dia justru berpuisi di tengah kebun teh dan disaksikan penyair kondang Hasta Indriyana.

Hasta Indriyana bersama seluruh peserta dan penyelenggara Residensi Akhir Pekan #5 di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub, Kecamatan Boja, Sabtu (30/12/2023) malam. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

“Sebuah pengalaman yang mengesankan,” cetus Anis, perempuan asal Desa Getas, Kecamatan Singorojo ini. Dalam kesempatan itu, Anis juga mengajak putri semata wayangnya, Zuraida Jihan Annisa (17).

Heri CS, perwakilan penyelenggara menjelaskan, acara “Minggu Berpuisi di Medini” menjadi salah satu ikhtiar mendekatkan aktivitas sastra dengan alam. Sebab, alam adalah sumber intuisi. Selain itu juga napak tilas jejak penyair Iman Budhi Santosa, yang pernah tinggal di Kampung Babadan, Kebun Teh Medini.

Saat ini, Kampung Babadan tak lagi berpenghuni dan tak terawat. Meski demikian, jejak-jejak bahwa kampung ini pernah menjadi permukiman masih ada. Bekas pondasi rumah, dinding batubata bekas mushala, hingga tanaman-tanaman hias di pekarangan rumah.

“Setidaknya, peserta memahami. Di tanah ini, pernah tinggal seorang penyair kondang. Atau bisa disebut maestro di bidangnya. Dan, harapannya peserta turut menghikmati riwayat dan proses kreatifnya selama hidup,” ujar Heri, koordinator Komunitas Sastra Lereng Medini (KLM).

Seluruh rangkaian acara ini diawali dengan gelaran Residensi Akhir Pekan #5 bersama Hasta Indriyana di Gedung Sastra dan Sosial Kebun Sastra Guyub, Kecamatan Boja, Kendal, Sabtu (30/12/2023), mulai pukul 13.00 hingga tuntas.

Di hari dan tempat yang sama, acara dilanjutkan dengan Ngobrol Sastra bertema “Mengapa (Kita) Perlu Berpuisi?”, dengan pemateri Hasta Indriyana, sepanjang dua setengah jam, mulai pukul 19.30 hingga 22.00. Acara gayeng ini juga diselingi pembacaan puisi oleh peserta Residensi Akhir Pekan #5.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *