Ustaz Ali Ajak Jemaah Miliki Sifat Pemurah

Ustaz Ali mengungkapkan, sifat pemurah atau kedermawanan akan menjadikan seseorang meraih kemuliaan. Sebaliknya, sifat kikir atau bakhil, justru bakal membawa kesengsaraan. Menjadi golongan orang-orang yang celaka di dunia maupun di akhirat.
KH Ali Nurudin (Ustaz Ali). // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

REPORTER/EDITOR: Dwi Roma | KENDAL | obyektif.id

PADA kesempatan pengajian rutin di Pondok Pesantren (Ponpes) Jabal Nur, Bukit Jabal, Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Jumat (15/7/2022) malam, Kiai Haji (KH) Ali Nurudin atau akrab disapa Ustaz Ali membedah seputar sifat-sifat pemurah dan mengajak para jemaahnya untuk menjadi ahli sedekah.

Ustaz Ali mengungkapkan, sifat pemurah atau kedermawanan akan menjadikan seseorang meraih kemuliaan. Sebaliknya, sifat kikir atau bakhil, justru bakal membawa kesengsaraan. Menjadi golongan orang-orang yang celaka di dunia maupun di akhirat.

Jemaah pengajian rutin Jumat malam Sabtu di teras kediaman H Ali Nurudin (Ustaz Ali). // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Berdasar Kitab Nashaihul Ibad karangan Syekh Nawawi Al-Bantani yang menjadi rujukan pengajian rutinnya, Ustaz Ali mengingatkan perihal keutamaan kedermawanan, dengan menukil sebuah Hadis Riwayat (HR) Tirmidzi:

Abu Hurairah RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Orang-orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Dan, orang-orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka. Sesungguhnya seorang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah dariapda seorang ahli ibadah yang kikir’.” 

Jemaah pengajian rutin Jumat malam Sabtu yang diasuh KH Ali Nurudin (Ustaz Ali) selalu meluber sampai pelataran Ponpes Jabal Nur. // KLIK gambar untuk nonton VIDEO-nya!

Lebih jauh dalam paparannya, Pengasuh Ponpes Jabal Nur Kaliwungu ini mengangkat satu kisah penuh hikmah tentang sepasang suami-istri yang hidup miskin dan mendadak kaya di zaman Nabi Musa. Kisah ini sering disampaikan di berbagai kajian ilmu.

Dikisahkan, pada zaman Nabi Musa hiduplah sepasang suami istri yang serba kekurangan selama bertahun-tahun. Kehidupan mereka tergolong sangat miskin, namun mereka tetap sabar dan berupaya keluar dari belenggu kemiskinan.

“Satu hari, keduanya mendatangi Nabi Musa agar berbicara kepada Allah tentang keadaan mereka dan memintakan supaya mereka diberi kekayaan,” tutur Ustaz Ali.

Sebagai satu dari lima Nabi bergelar Ulul Azmi, yang sekaligus dijuluki Kalimullah atau orang yang diajak berbicara langsung oleh Allah Ta’ala, Nabi Musa pun bermunajat menghadap Allah dan menyampaikan keinginan keluarga tersebut.

Singkat serita, Allah menjawab permohonan Nabi Musa. Allah mengabulkan permintaan suami-istri itu dan akan memberi mereka kekayaan, tapi selama satu tahun saja. Setelah satu tahun, Allah akan kembalikan mereka menjadi orang miskin.

Mendengar kabar dari Nabi Musa itu, pasangan suami-istri tersebut sangat gembira luar biasa. Benar saja, beberapa hari kemudian, kehidupan mereka pun berubah. Mereka menjadi kaya raya, hidup senang dan bahagia.

Sebagai ungkapan kegembiraan dan syukur, pasangan suami-istri ini menggunakan kekayaan mereka untuk membantu banyak orang. Selama setahun mereka memberi makan orang-orang fakir dan menyantuni anak yatim.

Bahkan, mereka membangun rumah singgah untuk membantu para musafir. Rumah itu dibangun dengan tujuh pintu, masing-masing pintu menghadap ke jalan yang berjumlah tujuh persimpangan. Keluarga ini pun mulai menyambut setiap musafir yang datang dan memberi mereka makan dan tempat singgah gratis, siang-malam.

Setahun berlalu, sepasang suami-istri ini tetap sibuk membantu para musafir dan memuliakan tamu yang berdatangan. Kehidupan mereka pun tetap kaya. Mereka lupa dengan tenggat waktu yang ditetapkan Allah tersebut.

“Melihat itu, Nabi Musa pun heran, lalu bertanya kepada Allah, mengapa sudah lewat batas waktu satu tahun tapi mereka tetap hidup kaya?” ucap Ustaz Ali, mengisahkan.

Ustaz Ali menutup pengajiannya dengan firman Allah sekaligus jawaban bagi pertanyaan Nabi Musa tersebut:

“Wahai Musa, Aku membuka satu pintu di antara pintu-pintu rezeki kepada keluarga tersebut, lalu mereka membuka tujuh pintu untuk membantu hamba-hamba-Ku. Wahai Musa! Aku merasa malu kepada mereka. Wahai Musa! Apakah mungkin hamba-Ku lebih dermawan dari-Ku?”

Kemudian Nabi Musa menjawab: “Maha Suci Engkau Ya Allah, betapa Maha Mulia urusan-Mu dan Maha Tinggi kedudukan-Mu.”***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *