Di Dusun Libak, Kiai Nurul Huda Bedah “Sluku-sluku Batok”

Menurutnya, syair Sluku-sluku Batok mengandung filosofi yang dalam, berasal dari bahasa Arab, “guslu-guslu batnaka” yang bermakna “bersihkan batinmu.”

REPORTER: Mutabingun | EDITOR: Dwi Roma | TEMANGGUNG | obyektif.id

MENGHADIRKAN Kiai Nurul Huda dari Semarang, warga Dusun Libak, Desa Margowati, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung menggelar pengajian akhirusanah, Kamis (1/4/2021). Acara dimulai pukul 13.00 hingga selesai.

Sebelumnya, anak-anak TPQ Nurul Qur’an Dusun Libak mengawali acara dengan kegiatan khataman bersama.

Hadir pula Al-Fikri, grup hadroh dari dusun setempat yang ikut memeriahkan acara, tampil dengan kostum serba putih, mengiringi jalannya pengajian dengan lantunan salawat di sela-sela acara hingga purna.

Aksi Kiai Nurul Huda saat memberikan tausiyah di pengajian akhirusanah.

Kemeriahan pengajian akhirusanah ini kian lengkap dengan penampilan tari sufi dua santri Kiai Nurul Huda, yaitu Arjuna Putra Pradana dan Muhammad Afif.

Dalam tausiyah-nya Kiai Nurul Huda berpesan agar umat Islam bisa mengamalkan ilmu yang telah dimiliki sebagai salah satu upaya menjaga agama Islam.

“Kanjeng Syeh Abdul Qadir Jaelani ngendiko, bakal rusak agomo sira kabeh kelawan patang perkoro, salah sijine yoiku yen sira duwe ngelmu nanging ora diamalake,” tuturnya dalam bahasa Jawa medhok.

Logo Komunitas Sandal (Santri Ndalan) Nusantara.

Tak hanya itu, Kiai Nurul Huda juga melantunkan sekaligus membedah syair gending Jawa Sluku-sluku Batok yang dulu digunakan oleh Wali Songo untuk syiar agama Islam.

Diiringi Grup Hadroh Al-Fikri dan tarian sufi, syair Jawa Sluku-sluku Batok terlantun dari lisan Kiai Nurul Huda yang dikolaborasi dengan bacaan salawat.

Menurutnya, syair Sluku-sluku Batok mengandung filosofi yang dalam, berasal dari bahasa Arab, “guslu-guslu batnaka” yang bermakna “bersihkan batinmu.”

“Kemudian batoke ela-elo atau ‘batnaka laailaha illallah,’ artinya  membersihkan batin dengan kalimat laailaha illallah,” jelasnya.

Di ujung tausiyah, Pengasuh Pondok Pesantren dan TPQ Baitunnaim, Pleburan, Kota Semarang sekaligus pengelola Komunitas Sandal (Santri Ndalan) Nusantara Kota Semarang itu juga menyampaikan bahwa setiap pengajiannya bisa disaksikan langsung melalui kanal YouTube dan Facebook.

Meski diguyur hujan, pengajian yang digelar di depan masjid Dusun Libak itu tidak menyurutkan semangat para pengunjung untuk menyimak tausiyah serta mauidah hasanah sang kiai .***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *