Semerbak Melati Maribaya Mewangi hingga Luar Negeri

Sekarang, puluhan ton melati berhasil diekspor ke berbagai negara, seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi. Tentu saja, yang dilempar ke mancanegara, khususnya di negara-negara Asia itu, melati yang benar-benar berkualitas.

Petugas menempatkan bunga-bunga melati hasil setoran dari petani, di ember-ember sebelum dipilah.

REPORTER: Nasikhi | EDITOR: Dwi Roma | TEGAL | obyektif.id

DI lahan pertanian yang berada di kawasan bibir Pantai Utara (Pantura) Laut Jawa, terdapat hamparan tanaman bunga melati yang menjadi ladang kehidupan warga Desa Maribaya, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal.

Budidaya tanaman melati di Desa Maribaya sudah berlangsung turun-temurun.

Memilih dan memilah bunga-bunga melati untuk mendapatkan yang benar-benar berkualitas.

Bunga melati Desa Maribaya berkualitas eskpor, karena dihasilkan dari kondisi tanah yang cocok untuk tanaman melati.

Penanaman pohon melati tergolong sangat mudah, meski harus dilakukan secara intensif dengan kadar air sedang.

Proses budidaya melati, dari mulai tanam sampai panen (dipetik), hanya butuh waktu sekitar satu tahun. Selanjutnya, tanaman akan terus tumbuh sampai waktu yang tidak terbatas, asal kondisi kesuburan tanah tetap terjaga.

Bunga-bunga melati pilihan berkualitas bagus, hasil petikan petani.

Wiryono adalah salah satu warga yang sudah puluhan tahun menekuni tanaman melati.

Ketika berbincang di rumahnya, Wiryono menceritakan segala suka-duka menjadi petani melati. Dari serangan hama sampai permainan harga, termasuk terjangan pandemi Covid-19, yang menurutnya menjadi alasan naik-turunnya harga melati.

Wiryono sekarang sudah tidak lagi berpanas-panasan memetik melati. Kini dia telah menjadi eksportir melati, buah perjuangannya yang penuh ketekunan.

Puluhan Ton

Sekarang, puluhan ton melati berhasil diekspor ke berbagai negara, seperti Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Arab Saudi. Tentu saja, yang dilempar ke mancanegara, khususnya di negara-negara Asia itu, melati yang benar-benar berkualitas.

Bunga-bunga melati yang sudah dironce, sebelum dikemas untuk diekspor.

“Barang yang saya kirim kualitasnya harus bagus. Hal itu kita jaga betul, untuk menjaga hubungan dagang kita,” tutur Wiryono.

Adapun jenis melati yang dikirim ke luar negeri, ada yang masih asli bunga melati, ada pula yang sudah dironce. Yang masih asli untuk campuran teh, sedangkan yang bentuk ronce untuk peribadatan.

Lonjakan permintaan tertinggi terjadi sekitar Oktober-Januari. Kuotanya bisa mencapai 15-20 ton per bulan.

Kendala Pengiriman

Pengiriman melalui pesawat, dengan biaya per kilogram sesuai negara tujuan. Semisal ke negara Thailand, Rp 33 ribu per kilogram, Malaysia Rp 34 ribu, dan paling mahal ke Arab Saudi yang mencapai Rp 40 ribu per kilogramnya.

Wiryono mencium aroma bunga melati sebagai bagian untuk menilai kualitasnya.

Ketika musim dingin, Wiryono mengungkapkan, negara tujuan biasanya mengalami kelangkaan melati.

Sistem pengiriman masih menjadi kendala saat ini, karena keterbatasan jadwal penerbangan pesawat ke negara tujuan akibat pandemi Covid-19.

“Jadi untuk biaya pengiriman, berapa pun tetap kami sanggupi,” ujar Wiryono, yang setiap hari membutuhkan 20 balok es batu untuk mengawetkan melati sebelum dikirim. 

Wiryono menunjukkan bunga melati ronce siap ekspor.

Sejatinya, Wiryono mengakui, untuk memasok kebutuhan lokal saja terkadang kadang mengalami kekurangan. Tapi akibat pandemi Corona, banyak melati yang dibuang, lantaran tidak ada permintaan.

“Karena keterbatasan permintaan dari pabrik teh lokal, akhirnya saya buang, karena melati kan tidak tahan lama,” bebernya.

Padahal, setiap hari, Wiryono harus menerima hasil petikan dari sekitar 120 petani yang menyetor.

Buruh Ronce

Kepala Desa Maribaya Andi Wijaya saat ditemui di rumahnya menuturkan, hampir sebagian besar warganya berbudidaya melati.

Bahkan, di Desa Maribaya, hampir tidak ada ibu-ibu yang menganggur. Mereka mencari tambahan penghasilan sebagai buruh ronce melati. Per hari, mereka bisa mengantongi upah antara Rp 20.000-Rp 40 ribu.

“Satu ronce bunga melati, mereka mendapat upah Rp 350,” jelas Andi.

Kepala Desa Maribaya Andi Wijaya.

Namun, Andi mengaku tidak tahu persis, berapa hektare lahan yang ditanami bunga melati.

Yang jelas, Andi merasa bersyukur bahwa desanya diberi anugerah lahan yang cocok untuk tanaman melati, sehingga warganya hidup sejahtera lewat semerbak keharuman aroma bunga melati.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *