Edy Dodot Puas “Iso Ngentut”

Jangan tanyakan soal kreativitas padanya. Dalam urusan mencipta lagu, dia punya produktivitas nyaris tanpa batas. Bahkan, dia mengaku puas saat bisa meluncurkan Iso Ngentut. Lhoh, kok bisa?

Penulis/Editor: Dwi Roma

Edy Dodot nggaya di ruang mixing OraNgiro Musik. // KLIK gambar untuk menonton VIDEO KLIP “Iso Ngentut”

NGETOP dan ngiwat-ngiwut dengan nama Edy Dodot. Musisi ini nyaris tak dikenali awam sebagai seniman musik atau pencipta lagu yang deras dalam produktivitas.

Setiap hal yang melintas di benaknya, hampir bisa dipastikan menjadi lagu. Karya-karyanya cenderung gampang mbrojoli. Deras mengalir seperti air seni, eh… darah seni yang menitis dari kedua orangtuanya, Mustari (almarhum) dan Astuti (mantan personel Orkes Kasidah El Jihad).

Edy Dodot memainkan gitar kesayangannya, mencari nada-nada inspirasi lagu. // KLIK gambar untuk menonton VIDEO KLIP “Iso Ngentut”

Tak sebatas titisan darah seni dari sang ibu, yang penyanyi kasidah rekaman (El Jihad), almarhum ayah Edy pun menitiskan darah seni lewat kegetolannya menikmati musik-musik grup rock mancanegara macam Led Zeppelin, Rolling Stone, Deep Purple, hingga Europe yang mengguncang dunia pada masanya lewat debut Final Countdown.

Begitulah garis takdir Edy Dodot. Nasib “kecil” yang dia alami pun, bisa menjadi sebuah lagu. Bahkan mewujud sebuah karya fenomenal: Iso Ngentut, yang dinyanyikan Badroen. Bagaimana ceritanya?

Kentut memang jorok. Tapi hal yang “terpinggirkan” dari sisi etika dan estetika rata-rata manusia itu justru dikemas cerdas oleh Edy menjadi tembang dangdut berbahasa Jawa: Iso Ngentut. Bergenre balada dangdut koplo. Asik. Apalagi digenapi dengan video klip dengan seting khas kalangan bawah.

“Tema lagu Iso Ngentut berangkat dari pengalaman pribadi, bahkan bisa jadi semua manusia di bumi ini, betapa ora iso ngentut (tidak bisa kentut) sangatlah menyiksa. Jadi, lagu Iso Ngentut itu merupakan wujud rasa syukur saya atas anugerah paling asasi dari Allah Sang Mahasegala,” ungkap pemilik nama asli Edy Purwanto kelahiran Kendal, 17 Mei 1977 ini.

Video klip Iso Ngentut bisa disimak tuntas di kanal YouTube OraNgiro Musik Official, milik OraNgiro Musik, label asli lokal Kabupaten Kendal bervisi dan orientasi global yang menaunginya.

Tentu bukan cuma Iso Ngentut. Bertabur lagu lain karya Edy Dodot yang bisa dipelototi di kanal OraNgiro Musik Official. Sebut saja, di antaranya, Lost Contact yang dinyanyikan Erna Marliena, Awakmu (Jaky Zaaff/vokalis Notku Band), Akhiri Saja (Syarif Hida, Notku Band), serta Ora Sudi dan Kate (Kekasih Temanku) lewat pelantun Nurul Young Chen.

Termasuk Garangan, single perdana Mutik Nida si Ratu Kendang Indonesia, yang menjadi tonggak bersejarah karena diluncurkan bersamaan dengan grand launching OraNgiro Musik, Sabtu (25/7/2020) malam silam. Bahkan masih dalam suasana Hari Jadi Ke-415 Kabupaten Kendal.

Pasar Sore, satu lagi lagu karyanya yang dipersiapkan untuk Mutik Nida, yang sempat pra-rilis versi akustik lewat tarikan vokal Nurul Young Chen.

Edy Dodot dan gitar, harmonisasi keseharian yang melenakan. // KLIK gambar untuk menonton VIDEO KLIP “Iso Ngentut”

Tak Mengotak-ngotak
Meski produktivitasnya belakangan cenderung di genre dangdut koplo berbahasa Jawa, Edy Dodot tak menampik alias anti-mengotak-ngotakkan jenis atau genre musik.

“Musik nggak bisa dan nggak boleh dikotak-kotak. Kalau saya akhir-akhir ini banyak merilis lagu dangdut koplo berbahasa Jawa, itu tergantung kebutuhan pasar dan penyanyinya,” ujar Edy, yang mukim dan dipercaya menjadi Ketua RT 01/RW 02 Desa Sidorejo, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini.

Senyum termanis Edy Dodot yang tercipta di ruang mixing OraNgiro Musik. // KLIK gambar untuk menonton VIDEO KLIP “Iso Ngentut”

Edy tidak sedang berbasa-basi atau memainkan diplomasi. Diam-diam, dia punya background bermusik allround. Blues, jazz, dan utamanya pop rock.

Sebelum getol bersolo karir sebagai pencipta lagu, Edy Dodot sudah malang-melintang sebagai gitaris di Notku Band, bareng personel lain Agustian (kibor), Jaky Zaff (vokal), Eky Bontot (bas), dan Jengky Dousath (drum).

Bareng Notku Band, kala itu, Edy sempat mengantarkan lagu Kate (Kekasih Temanku) –yang kini dinyanyikan ulang Nurul Young Chen– ke Jakarta dan merilis album rekaman Kompilasi 10 Besar, yang diproduseri Import Music (Anang dan Abdee Slank). “Kami juga dibuatkan video klip berbiaya produksi Rp 50 juta,” ungkapnya, bangga.

Kembali, kenapa dangdut? Dengan ketenangan khasnya, Edy Dodot menjawab, “Dangdut itu modern. Instrumennya beda, khas, dan nggak dimiliki genre musik lain,” cetus pria “kalem-kalem slengekan” yang mengaku setiap proses kreatifnya membutuhkan ketenangan, utamanya saat “berkontemplasi” di WC ini.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *